Thank you for your interest!

Add free and premium widgets by Addwater Agency to your Tumblelog!


To hide the widget button after installing the theme:

  1. Visit your Tumblr blog's customization page (typically found at http://www.tumblr.com/customize).
  2. Click on Appearance.
  3. Click Hide Widget Button.
  4. Click on Save+Close.

For more information visit our How-To's page.

Questions? Visit us at tumblr.addwater.com

[close this window]

POSTINGS

Sendiri

Terkadang ada kalanya ketika seseorang butuh menyendiri. Ada kalanya seseorang sama sekali tidak memerlukan orang lain untuk berada di sekelilingnya. Ada kalanya seseorang lebih nyaman untuk memapah dirinya sendiri, ketimbang dipapah oleh orang lain. Ada kalanya seseorang berbicara dengan hatinya, tanpa butuh saran dan bulir pikiran individu lain.

Entah sejak kapan, akhir-akhir ini, keadaan itulah yang membuat gue selalu merasa nyaman. Menyendiri, atau minimal pergi kemana pun seorang diri udah nggak aneh buat gue. Bahkan, gue sangat menikmatinya. Bagaimana gue pergi ke suatu tempat ramai, sendirian. Pergi makan, sendirian. Sampai rumah pun demikian. Ngobrol dan bercengkerama dengan keluarga, secukupnya. Selebihnya gue habiskan di kamar.

Gue nggak menampik keadaan gue sekarang yang harus dihadapkan dengan tingkat sosialita yang cukup tinggi. Di kampus, ada beberapa kegiatan yang mengharuskan gue untuk bisa bertatap muka dan bersosialisasi langsung dengan banyak orang. Keadaan yang tentu saja memaksa gue untuk tetap ‘bahagia’ ketika bercengkerama dengan mereka. Tapi, setelah itu semua selesai, kembali gue lebih bahagia dengan hidup sendiri. 

Bukan, bukan gue nggak butuh orang lain. Hanya saja, untuk sementara, gue lebih senang bertindak secukupnya. Menyelesaikan kewajiban. Bukannya membuat orang lain bahagia adalah kewajiban setiap insan? Iya, wajib, tapi setelah itu, izinkan gue untuk menyendiri lagi. 

"sabar bukan soal berapa lama kamu menunggu, namun apakah kamu setia saat menunggu."

(via aanmansyur)
Siluet. Kalau diperhatikan lebih lama….JAKUN GUE MANA YA ??!!!

Siluet. Kalau diperhatikan lebih lama….JAKUN GUE MANA YA ??!!!

Dear, Adik-Adik…

Mungkin, tulisan gue kali ini nggak bisa membantu apa-apa. Mungkin juga sebagian dari mereka menganggap, gue udah terlalu ‘tua’ untuk membahas persoalan ini. Mungkin, mereka mengganggap gue udah mati rasa dan sama sekali nggak peka dengan problem yang sedang mereka rasakan sekarang.

Memang kata-kata nggak jauh lebih baik dari tindakan langsung. Lagi, gue bukan penulis dan terkadang, tulisan gue nggak pernah bisa mewakilkan apa yang gue rasakan sekarang.

Silakan persepsikan gue seperti apa yang udah gue utarakan pada paragraf pertama. Gue terima itu semua. Tapi sebagai seorang kakak, bahkan sahabat, atau mungkin sesepuh kalian, gue cuma mau kalian keluar dari belenggu sempit yang gue yakin sampai detik ini masih mengekang kalian di dalam kamar.

Izinkan gue untuk sedikit bercerita. Tentang pulang pergi Arcamanik-Kosambi. Tentang ‘uji coba’ yang hampir mendekati kesempurnaan. Tentang senyum Ibu ketika beliau melihat semangat gue. Tentang pengharapan Bapak diatas loteng waktu itu. Tentang dengki di malam itu. Tentang air mata yang terurai. Tentang gue yang masih sering pulang pergi kantin Ganesha, setelah pulang dari kunjungan singkat Dayeuh Kolot. Tentang itu semua. Karena sadar atau nggak, gue pernah merasakan itu semua. Pernah merasakan perih setelah dua kali ‘ditolak’. 

Gue nggak mau naif. Cengar-cengir menertawakan kalian yang akhirnya merasakan apa yang pernah gue rasakan adalah hal tersadis di dunia ini. 

Udah cukup! Kalian masih punya kesempatan. Masih ada ratusan tahap yang bisa kalian hadapi. Masih ada jutaan fase yang belum kalian singgahi.

Nggak seharusnya calon orang-orang hebat seperti kalian tumbang di fase ini. Iya, gue pernah merasakan itu. Gimana gue harus menerima kenyataan ditolak mentah-mentah. Terlebih, Ganesha, tempat yang selama kurang lebih satu tahun selalu jadi mimpi terindah gue. Ketika gue harus menjilat ludah sendiri setelah sahabat gue berhasil membuktikan bahwa dia lebih unggul ketimbang gue. Gue merasakan itu semua, dan masih, perih.

Perih itu masih berlanjut, setelah ‘uji coba’ yang hampir sempurna harus buyar ketika gue harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa gue ditolak untuk kedua kalinya. Gue nangis. Iya, setelah hampir dua tahun, akhirnya malam itu gue nangis. Dan gue merasa menjadi orang paling bodoh yang ada di jagat raya ini.

………

Gue pernah merasakan luka itu. Iya, bahkan sampai sekarang, setelah kemarin selama seharian gue melihat jaket abu bertuliskan ‘STEI’. Luka lama itu masih basah ternyata.

Gue yakin, Allah pasti punya jalan lain. Menempatkan gue di Dayeuh Kolot adalah caraNya untuk membuka jalan pikiran gue. Dia nggak mau gue hanya sembunyi kecil di belakang ‘patung gajah’. Dia nggak mau, nama gue besar karena ada embel-embel ‘Ganesha’ di belakangnya. Dia mau, gue yang membesarkan Dayeuh Kolot, bukan Ganesha yang membesarkan gue. Gue coba berbaik sangka, karena jalan Allah nggak pernah salah. Sampai pada detik ini, di waktu itu, gue sedang berada di jalur itu. Gue sedang berada pada proses yang seenggaknya, ada kontribusi gue disitu, meskipun kecil.

Mimpi itu masih disini. Bukan mimpi ‘dibesarkan’, tapi ‘membesarkan’. Begitu juga kalian. Bukan bermaksud menghancurkan cita-cita tapi, berpikirlah yang luas. Dunia ini butuh apa? Laksanakan di jalur itu, dan yakinlah kalian yang bisa ‘membesarkan’ bukan ‘dibesarkan’. 

Bangkit, dan hadapi jutaan fase di depan sana! Bukankah manusia tercipta dengan takdir yang sudah beriringan? Sekarang tinggal kalian yang mengarahkan, takdir mana yang mau kalian raih.

Dan ingat, kalian adalah pejuang. Ikuti kata hati, lihat apa yang dunia butuhkan, dan selaraskan dengan langkah yang harus kalian ambil. 

Perubahan

Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar kata ‘perubahan’ ? Bergantinya penampilan? Sifat? Sikap dan perilaku? Sebagian orang normal mungkin berpendapat seperti itu. Sebagian lainnya berpendapat bahwa perubahan itu seperti Power Ranger, Kamen Rider, atau Ultraman. Bergantinya wujud dan diikuti dengan bertambahnya kekuatan.

Sebenernya, nggak ada yang salah dari itu semua. Karena perubahan itu relatif, tergantung dari sisi mana seseorang melihatnya. Orang bijak bilang: Hidup adalah perubahan menuju arah yang lebih baik. Tapi, nggak ada satu orang pun yang bisa mendefinisikan arti kata ‘lebih baik’ tersebut.

Dulu gue pernah punya pendapat, kalau perubahan selalu disertai dengan bertambahnya kualitas dan kuantitas aspek-aspek kehidupan. Contoh nyata, kesibukan. Waktu kecil, gue menganggap bahwa orang sibuk itu keren. Berangkat pagi, pulang malem. Perubahan yang terjadi sangat jelas terlihat. Perubahan jadwal pulang, perubahan pola hidup, perubahan sikap, perubahan gaya berpikir. Dan gue menganggap, orang sibuk adalah orang sukses di kemudian hari.

Iya, waktu berlalu, dan sampai sekarang, sejujurnya gue masih memegang teguh pendapat masa kecil gue dulu. Orang sibuk itu keren. Tapi kemudian, ada beberapa hal yang akhirnya sedikit demi sedikit melunturkan persepsi gue tadi. Nggak selamanya perubahan menghasilkan kualitas yang baik, dan nggak selamanya kuantitas mengindikasikan bahwa kita sudah menuju ke arah yang lebih baik.

Lagi, perubahan itu relatif. Ketika kita beranjak dari satu kondisi ke kondisi yang lain, nggak semua kebaikan di kondisi lama ikut pindah juga ke kondisi yang baru. Kualitas yang sejatinya sudah kita bangun pada kondisi sebelumnya, lama kelamaan akan berganti menjadi kualitas yang akan kita dapatkan pada kondisi yang baru. Dan itu sangat berbeda. 

Siklus hidup adalah tentang bagaimana kita mendapatkan dan kehilangan. Ada kalanya ketika kita meraih apa yang kita impikan, beberapa hal yang sebelumnya sudah kita miliki ikut hilang juga.

Nah, begitu pula dengan perubahan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita impikan dengan hanya sedikit bergeser dari keadaan awal, belum tentu dunia menyambut perpindahan itu dengan baik. Pasti ada pertentangan diantara itu semua. Perubahan sifat adalah yang paling mendasar. Bagaimana seseorang yang tadinya benci menjadi suka, suka menjadi sayang, lalu sayang menjadi cinta, seketika bisa berbalik 180 derajat. Cinta jadi hanya sekedar sayang, sayang jadi hanya sekedar suka, dan suka menjadi benci. Tragis kan?

Itulah perubahan. Perpindahan, siklus, perputaran. Perubahan sejatinya hampa. Nggak baik dan nggak buruk. Merekalah yang menganggap ini baik atau buruk. Dunia yang mungkin belum setuju dengan pilihan yang kita ambil. Keadaan yang mungkin belum siap dengan perpindahan itu. Dan kita, yang mungkin terlalu cepat berlari, atau kita yang terlalu lama beristirahat.

Lalu, janji gue untuk memperlambat langkah kaki ini..Ya, seenggaknya gue berusaha, masih berusaha. Karena gue yakin, yang terbaik masih ada di belakang sana. Doakan saja, semoga. 


Tentang bagaimana produktifitas sangat ditentukan oleh lingkungan dan keadaan.

They Are ‘CAT’ not Cat !!

Beberapa orang mungkin udah tau cerita tentang ‘serdadu-serdadu kecil’ beserta Ibunya. Beberapa makhluk mini yang terkadang bisa jadi moodbooster ketika gue lagi banyak pikiran. Makhluk berbulu, yang seringkali memberi inspirasi, meskipun sederhana. Hal ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan gue beberapa bulan yang lalu. Atau mungkin, hampir setahun yang lalu. Lama juga ya.

Sebagian orang yang masih sempet-sempetnya membaca tulisan gue kali ini mungkin agak bingung. Iya, melihat prolog diatas, nggak aneh kalo orang mengira gue lagi membicarakan jenglot atau tuyul gondrong. Enggak, gue nggak se-freak itu kok. Tapi, yang pasti, beberapa makhluk ini sukses menjadi saksi hidup perjalanan hidup gue selama satu tahun ke belakang. Saat dimana kelabilan menjadi gaya hidup gue sehari-hari. Dan itu, keren.

_____
 

Semua berawal pada siang itu. Ralat. Semua berawal pada siang itu, ketika gue lagi asyik-asyiknya ngepoin timeline Twitter (ehm) kecengan gue, di masjid SMA. Dan seperti biasa, kepo itu mengasyikan (dan menyakitkan). Waktu itu gue masih muda (SMA.red). Paling nggak waktu itu, wajah gue nggak dilengkapi dengan kelopak mata yang bisa dipakai buat ngantongin duit gopean. 

Suatu waktu, di tengah-tengah kegiatan meng-kepo, ada salah satu adik kelas gue yang meng-update status seperti ini: 


Oke, nggak penting. Lanjut!


Ini apaan siang-siang galau.


Ya, kerjain lah, bukan curhat.

Oke, kepo terus berlanjut. Sampai pada suatu waktu, ketika gue mulai putus asa karena kecengan gue nggak juga update statusnya, ada adik kelas yang waktu itu sempet jadi temen latihan salah satu bela diri, bikin status di akun Twitternya. Namanya, sebut saja Wati. Kalo nggak salah, begini isi twitnya:

Pertama kali baca, entah kenapa yang ada di pikiran gue, sosok ‘Jorji’ adalah semacam kutil yang nggak sembuh-sembuh. Iya, anggap aja gue lagi ngaco pada saat itu. 

Selidik punya selidik, singkat cerita gue tau apa arti dibalik kata ‘Jorji’ tersebut. Sesuatu yang sempat beberapa tahun terakhir nggak pernah gue miliki lagi. Iya, makhluk berbulu.

_____

Suatu hari gue coba menghubungi Wati. Berharap mendapatkan kabar gembira bahwa makhluk berbulu yang gue idam-idamkan sejak lama menjadi kenyataan.

(Sorry dipotong, guna memperjelas objek yang lagi gue bahas, dan meminimalisir kemungkinan missunderstand, maka mulai saat ini gue memutuskan untuk mengganti kata ‘makhluk berbulu’ dengan kata ‘kucing’. Terimakasih).

“Wat, gimana nih, kucingnya udah bisa diambil belum?” tanya gue sok akrab.

“Udah, kak. Besok kakak ambil aja ke rumah,”

“Oke deh, besok pulang bareng aja,”

Keesokan harinya, seperti yang udah direncanain sebelumnya, gue sama Wati pulang berdua. Tentu aja dengan destinasi yang sama, rumah Wati. Tempatnya di sekitar Dayeuh Kolot. Nggak jauh dari kampus gue, dua tahun kemudian. 

Bener aja, sesampainya di rumah Wati, gue disuguhi oleh tiga ekor kucing yang berlarian di halaman depan rumahnya. Satu dari ketiganya sudah cukup dewasa. Dan gue yakin, itu adalah induknya. Dua lagi masih bocah. Ya kira-kira usia empat atau lima bulan. “Ini kucing kakak,” ujar Wati.

“Hah? Serius? Wah, asyik!!”

“Dirawat ya kak,”

“Siap. Wah makasih banyak nih, udah lama kakak mau kucing,”

“Iya kak, sama-sama ya,”

Nggak lama, gue pulang, dengan membawa seekor kucing yang sebelumnya udah gue taruh di dalam sebuah toples kerupuk berukuran sedang. Oke, mungkin ini emang nggak berperikucingan. Tapi apa daya, cuma ini satu-satunya yang bisa mengangkut anak kucing ini supaya bisa sampai ke rumah gue di sekitar Arcamanik.

_____

Hari terus berlalu, anak kucing yang pada akhirnya gue kasih nama Mio ini tumbuh sehat tanpa kekurangan. Makan enak, tidur nyenyak, dan hamil banyak. Iya, hamil banyak. Masalah baru yang sempet bikin gue dan keluarga stres, terutama Ibu. Ibu emang ngebolehin gue memelihara hewan pelihara, terutama kucing. Tapi sebenernya, Ibu nggak pernah setuju kalo ternyata kucing yang dipelihara berjenis kelamin betina. Alasannya simpel, nggak lain dan nggak bukan, kucing betina itu..rentan hamil.

18 April 2011, Hari Pertama Ujian Nasional SMA

Kalo gue disuruh milih, hari itu adalah satu dari beberapa hari bersejarah dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Iya, tepat di hari itu, gue sebagai remaja yang pernah merasakan dahsyatnya Ujian Nasional, harus mengawali hari pertama UN dengan sport jantung ringan. Waktu itu, Mio yang udah beberapa minggu perutnya sempat membuncit, tiba-tiba masuk ke kamar gue dengan wajah memelas. Kalo nggak salah, gue juga pernah nulis tragedi ‘18 April’ ini. Entahlah, gue lupa. Singkat cerita, setelah beberapa kali melakukan komunikasi non-verbal dengan Mio, akhirnya gue tau apa keinginan dia. Iya. Dia. Mau. Melahirkan. 

Proses persalinan berlangsung lancar. Hal ini bisa dilihat dari rekaman video yang ada di HP Ibu. Sepulang sekolah, gue langsung bela-belain nggak makan dan minum dulu. Kelahiran ‘adik-adik’ baru gue lebih berharga dari rasa lapar dan haus. Keren kan? Enggak, oh, ya udah.

_____

18 April 2012, 1st Anniversary 

Kali ini, setahun sudah serdadu-serdadu kecil gue hidup di muka bumi. Setahun sudah mereka menemani gue. Banyak hal yang udah gue lewatin. Dan banyak pula hal yang udah gue dapet selama merawat mereka semua. Ada tragedi, ketika dua dari empat serdadu kecil gue akhirnya tereleminasi. Mereka pergi, atau lebih jelasnya nggak pernah pulang sampe sekarang. Terkadang emang, gue sebagai manusia nggak berperikucingan. Contohnya, gue sering mandiin kucing-kucing gue padahal waktu itu lagi nggak ada matahari. Alhasil, mereka kedinginan, dan gue kabur nggak mau disalahin.

Memang, nggak ada yang spesial dari mereka. Mereka bukan kucing bule yang bulunya lebih lebat dari domba Australia. Mereka juga bukan kucing cerdas yang IQ nya melebihi IQ spesies primata seperti simpanse. Mereka nggak bisa disuruh-suruh layaknya seekor Golden Retriever. Tapi, mau nggak mau, selama beberapa bulan hingga setahun ini, seenggaknya mereka resmi jadi saksi bisu kehidupan gue. Pernah suatu hari waktu gue lagi (ehm..sorry) dilema, gue duduk lemes di teras rumah dan kalian tau apa? Gue ngomong sama mereka. Iya, gue curhat. Konyol kan?  

Dan tepat di ulang tahun perdana para serdadu kecil gue, nggak ada yang bisa gue kasih, selain terus merawat makhluk-makhluk berbulu ini. Hadiah terlucu adalah melihat mereka sehat. Begitupun dengan mereka, yang mungkin bahagia ketika menyambut kedatangan gue sepulang kuliah. Percaya atau nggak? Ya, percayalah.

HAPPY BIRTHDAY UNYIL, BUJANG, DAN DUA SAUDARAMU DISANA!!!


Unyil dan Bujang. Dikirimin Bapak via WhatsApp.


Their childhood

Mas, mas, mau ronda mas? Kok bawa-bawa sarung begitu mas?

Mas, mas, mau ronda mas? Kok bawa-bawa sarung begitu mas?


Jika engkau bertanya,”Apa itu permib?”
Maka akan aku ceritakan semua tentang kita.
Tentang kisah dahulu, saat kita bersama.

Jika engkau bertanya, akan ku ceritakan saat kita tertawa lepas bersama.
Melepas semua beban yang ada, sejenak keluar dari realita yang ada.

Jika engkau bertanya, maka akan kukisahkan tentang mereka yang ada disekeliling kita, ketika kita merasa sendiri yang tak akan beranjak sampai tangis itu berhenti menetes.
Sampai seberkas senyum mengembang kembali.

Jika engkau bertanya, akan kuceritakan tentang kisah kita berdua.
Tentang perasaan antara kita yang datang begitu saja. 
Walau tanpa disadari kadang cinta itu salah.
Namun mereka tetap dapat mengerti.

Akan kuceritakan ketika kita berkumpul bersama.
Tingginya gunung yang kita daki. 
Padatnya kota pernah kita lalui.
Luasnya samudera pernah kita jumpai.

Sering kita berbincang, bercerita entah kemana.
Berdiskusi tentang hidup atau bernyanyi tentang indahnya dunia.

Mereka yang selalu ada ketika bagaimanapun kita.
Mereka yang pundaknya selalu ada untuk bersandar.
Yang tangannya selalu kuat untuk menggapai.
Yang selalu siap menemani sampai malam tiba.

Walau terkadang mereka membuat kita jengkel.
Namun selalu ada seberkas senyum atau luapan tawa yang terkembang.

Kumpulan puzzle yang tercecer.
Saudara yang hilang dari silsilah. 
Kita KELUARGA.
Karena kita yakin, keluarga bukan hanya tentang pertalian darah.
Keluarga adalah tentang perasaan hati terikatnya batin, persamaan yang menyatukan kita, perbedaan yang membuat kita lengkap.
Seucap kalimat yang akan selalu kita teriakan. 
Untuk satu kota dimana kita lahir dan dibesarkan

“BANDUNG! HADE PISAN EUY!”

"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan."

Ali bin Abi Thalib (via anggiaisyah)

(Source: myhopemyworldme)

About Me

HAFIZH!

Kandungan: 30% badut sulap, 30% manusia listrik, 20% penulis amatir, 15% editor jahil, 5% masih diberikan anugerah sebagai manusia normal








SEARCH